cerita sopir taksi di bali

aku celingukan mencari taksi yang sudah aku order lewat resepsionis hotel Le Meridien Nirwana. Berdasarkan ciri-ciri yang disampaikan pak resepsionis, yang aku cari-cari adalah mobil vios warna silver dengan tulisan taxi di atasnya. untungnya pak sopir taksi inisiatifnya tinggi. nyamperin aku ma seniorku yang sudah gundah menanti.

rupanya mobil yang sejak aku datang sudah menunggu di depan lobi adalah taksi yang kupesan. persis sesuai ciri-ciri di atas. yang kurang adalah tulisan taxi berikut atribut-atributnya. wayan sandi, begitu sopir yang masih muda itu memperkenalkan diri. pertama-tama dia minta maaf karena taksi baru dalam proses registrasi, meski ijin sudah keluar. uniknya taksi tersebut rupanya milik desa. sesuatu yang baru pertama kudengar. lebih jauh dia bercerita, bahkan tempat wisata tanah lot yang terkenal itu juga dikelola oleh masyarakat setempat. sayangnya aku lupa persisnya apakah di tingkat banjar (dusun) atau desa (kumpulan dari beberapa banjar). Kegiatan operasional ditangani tim profesional yang mendapat gaji dari masyarakat. Pendapatan yang diperoleh didistribusikan kepada masing-masing pemangku kepentingan. Mulai dari pemerintah provinsi bali (barangkali via dinas pariwisatanya), owner lama (ibu X, yang kontraknya habis tahun 2011 something), dan desa/banjar. Desa/banjar mendistribusikan kembali kepada tim manajemen, adat (untuk membiayai pembangunan/pemeliharaan tempat ibadah dan kegiatan2 keagamaan), dan juga warga setempat. tiap keluarga bisa dapat 100 ribu yang mirip BLT tea ….

rupanya sudah sedemikian majunya implementasi otonomi di bali. salut dech… yang lebih salutnya lagi masyarakat benar2 mendukung kemajuan wisata di sana. sopir taksi bisa merangkap sebagai pemandu wisata tidak resmi. Demikian juga room boy, penabuh gamelan, resepsionis, dst.

pas aku tanya tentang pohon pule, pak sandi bisa bercerita panjang lebar. bahkan menunjukkan beberapa pohon pule yang cukup besar di sepanjang jalan yang kami lalui dari tanah lot menuju bandara. karena seniorku merasa kurang jelas dengan bentuk pohon dan daunnya, pak sandi sempat menawarkan untuk mengunjungi pura di dekat bandara yang di dalamnya terdapat sebatang pohon pule yang menjulang. tawaran yang dengan halus kami tolak mengingat terbatasnya waktu.

dengan keramahan dan kepiawaian sopir taksi seperti pak sandi, tidak heran jika industri pariwisata di Bali dapat dengan cepat melakukan recovery setelah diguncang tragedi bom bali yang berulang. tidak heran pula, dari investasi awal berupa sebidang tanah seharga 75 juta di uluwatu yang dilakukan seorang pemilik hotel tahun 1980an sekarang valuasinya sudah mencapai 400 milyar.

bali emang ga ada matinya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: