Perajin Topeng Harapkan Petani Atasi Kelangkaan Kayu

Kerajinan
Perajin Topeng Harapkan Petani Atasi Kelangkaan Kayu

 

Gunung kidul, Kompas – Para perajin topeng di Dusun Bobung, Desa Putat, Patuk, Gunung Kidul, mengharapkan adanya kerja sama para petani untuk mengatasi kelangkaan kayu pule (Alstonia scholaris R Br). Para perajin topeng kayu batik setempat terpaksa mencari ke daerah lain dengan harga mahal.

Mereka terpaksa menunggu pasokan dari Pacitan dan Ponorogo (Jawa Timur) serta Purworejo (Jawa Tengah). Sementara, harga mencapai Rp 1,75 juta per truk isi sekitar lima meter kubik. Kondisi tersebut membuat para perajin terpaksa juga mematok harga cukup mahal dengan ukuran yang paling kecil seperti topeng suvenir gantungan kunci Rp 5.000 per buah hingga Rp 55.000 untuk topeng ukuran besar atau L.

“Permintaan terhadap topeng kayu batik masih besar, tetapi para perajin tidak bisa memenuhi karena bahan baku yang tersedia sangat terbatas dan mahal. Sementara, permodalan juga masih terbatas,” kata Marsilam dari Bengkel Perajian Topeng Karya Manunggal di Dusun Bobung, Patuk, Rabu (19/9).

Marsilan menyatakan, untuk mengatasi kelangkaan kayu pule ini tidak ada jalan lain kecuali melakukan penanaman besar-besaran. Namun, kalau peremajaan tanaman tersebut diserahkan kepada para perajin, itu tidak mungkin. Sebab, beberapa tahun lalu hal tersebut pernah dilakukan dan tidak berhasil karena para perajin terkonsentrasi mengurus usaha mereka. Kerja sama

Menurut Marsilan, upaya yang terbaik dilakukan adalah bekerja sama dengan para petani yang bersedia mengembangkan tanaman tersebut. Dengan cara ini, selain bisa mendapatkan kayu pule dengan mudah dan murah, para petani sendiri mendapat penghasilan tambahan.

Menyinggung soal permintaan pasar, Marsilan mengungkapkan, kerajinan topeng, patung, menong, wayang, wayang golek, dan aneka kerajinan kayu batik lain setiap pemesanan mencapai 5.000 buah, khususnya kerajinan topeng berbagai ukuran. Tetapi, dengan mempekerjakan 76 warga setempat, baru mampu menghasilkan 200 topeng sehari. Tingginya permintaan tersebut karena hasil kerajinan di dusun ini hampir 80 persen untuk diekspor melalui pedagang perantara ke Singapura, Amerika Serikat, Australia, dan Perancis.

 

Hal senada diungkapkan Surono, perajin topeng. Ia yang baru enam bulan membuka usaha kerajinan topeng di dusun ini juga merasakan tingginya permintaan pasar.

Selama tiga kali mengikuti pameran kerajinan, dari 150 topeng yang digelar, hampir 80 persen terjual. “Saya jual menjual di Malioboro, Yogyakarta, juga laris,” katanya. (FUL) 

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0709/21/jogja/1042663.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: