Akarnya dapat dipakai sebagai bahan kerajinan

Profil
Rusli, Penerus Kerajinan “Telok Abang”

Setiap menjelang 17 Agustus, jalan-jalan di Palembang, Sumatera Selatan, dipenuhi mainan telok abang. Disebut telok abang atau telur berwarna merah karena mainan ini dijual bersama telur rebus yang dicat merah jingga. Kerajinan itu sudah menjadi tradisi setiap perayaan ulang tahun kemerdekaan RI di Kota Pempek itu sejak puluhan tahun silam.

Sebagian besar mainan telok abang itu dipasok dari sejumlah perajin di Lorong Haji Umar, Kelurahan 8 Ulu, Palembang. Salah seorang perajin itu adalah Rusli (32). Lelaki itu selalu memproduksi berbagai mainan menjelang perayaan 17 Agustus sejak tahun 1980-an.

Rumah Rusli yang berada di samping Sungai Aur dipenuhi beragam mainan telok abang, Minggu (6/8) siang itu. Ada yang berbentuk pesawat terbang, kapal, becak, atau burung. Semua mainan itu cukup mencolok karena dicat warna-warna meriah dan bentuknya lucu-lucu. Mainan itu diberi tali dan kitiran menyerupai baling-baling kecil.

Lelaki itu cukup cekatan membuat beragam mainan yang dibuat dari akar kayu pohon pule, yang disebut kayu gabus. Semua itu dikerjakan hanya dalam beberapa menit. “Sekarang ini saya membuat sekitar 1.000 mainan dengan modal Rp 1 juta. Mainan itu diambil pedagang untuk dijual di Palembang, Lahat, Prabumulih, atau kota lain. Mainan itu dijual Rp 8.000 sampai Rp 50.000 per buah, tergantung besar-kecil atau rumit-sederhananya,” katanya.

Hanya saja, kerajinan tradisional telok abang terhambat biaya produksi yang semakin tinggi karena harga bahan baku terus meningkat. Harga kayu gabus per lima potong, misalnya, naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 15.000. Satu lembar kertas manggis yang asalnya berharga Rp 500 menjadi Rp 750. Harga satu kilogram cat minyak naik dari Rp 20.000 menjadi Rp 30.000. Satu kaleng kecil lem kayu juga naik dari Rp 3.500 menjadi Rp 4.500. “Yang repot, kayu gabus sering sulit ditemukan di pasaran. Kalau sudah begitu, mainan terpaksa dibuat dari kertas karton,” katanya.

Rusli lahir di Palembang tahun 1973. Dia belajar membuat mainan telok abang sejak kecil langsung dari almarhum kedua orangtuanya, yang juga perajin telok abang. Dia mulai memproduksi telok abang secara mandiri sejak lajang.

Lelaki tamatan SD itu juga pandai membuat dekorasi pada acara pernikahan, melukis, dan membuat patung dari berbagai bahan. Saat ini ia hidup bersama istri, Jamilah (27), dan seorang anak, Putri (7). Selain membuat telok abang, ia berdagang makanan dan minuman di toko kecil depan rumah. (ilham khoiri)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/07/sumbagsel/2862924.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: