pada waktu ES masih berkuasa, ada guyonan bahwa pohon beringin disakralkan karena merupakan lambang “the ruler party”. tetapi menarik juga penjelasan dari tradisi bali ini.
Dari literatur yg saya baca dan pendapat seorang pendeta yg saya tanyakan, pohon beringin ternyata memiliki story serta filsafat hidup yg tinggi. Pohon beringin adalah pohon bodi yg tumbuh di surga. Pohon ini adalah pohon kalpataru yg mampu memberikan kebahagiaan bagi yg berada dibawahnya. Ini tidak terlepas dari cerita keberadaan pohon beringin itu sendiri. Diceritakan bahwa Dewi Parwati yg karena kesalahannya dihukum oleh suaminya Dewa Siwa selama 8 tahun untuk membersihkan diri di kuburan dalam wujud Dewi Durga. Setelah menjalani masa hukuman, Dewa Siwa turun ke dunia menjemput Parwati yg saat itu berwujud raksasa Dewi Durga. Siwa pun berubah wujud menjadi raksasa bernama Kala Engket. Rasa rindu ini menimbulkan kama atau nafsu antara Siwa dan Durga. Disebutkan dari kama ini tumpahlah air mani Siwa, yg jatuh dibadan Durga berubah wujud menjadi bhutakala-bhutakali (raksasa), makhluk halus (jin-jin) dan setan. Yg tumpah ditanah menjadi pohon kepuh, pohon beringin, pohon pule. Ketiga pohon tsb merupakan pohon sakral di Bali seperti pule batang kayunya dipakai utk topeng barong/rangda. Sedangkan pohon beringin, daunnya dipakai sarana saat upacara ngaben, upacara mamukur (kelanjutan ngaben), dan ritual-ritual lainnya. Bahkan daun beringin wajib ada dalam komponen pembuatan penjor (tiang bambu yg dihias janur saat hari Galungan).






