mengapa pohon beringin dan pule disakralkan?

pada waktu ES masih berkuasa, ada guyonan bahwa pohon beringin disakralkan karena merupakan lambang “the ruler party”.  tetapi menarik juga penjelasan dari tradisi bali ini.

Dari literatur yg saya baca dan pendapat seorang pendeta yg saya tanyakan, pohon beringin ternyata memiliki story serta filsafat hidup yg tinggi. Pohon beringin adalah pohon bodi yg tumbuh di surga. Pohon ini adalah pohon kalpataru yg mampu memberikan kebahagiaan bagi yg berada dibawahnya. Ini tidak terlepas dari cerita keberadaan pohon beringin itu sendiri. Diceritakan bahwa Dewi Parwati yg karena kesalahannya dihukum oleh suaminya Dewa Siwa selama 8 tahun untuk membersihkan diri di kuburan dalam wujud Dewi Durga. Setelah menjalani masa hukuman, Dewa Siwa turun ke dunia menjemput Parwati yg saat itu berwujud raksasa Dewi Durga. Siwa pun berubah wujud menjadi raksasa bernama Kala Engket. Rasa rindu ini menimbulkan kama atau nafsu antara Siwa dan Durga. Disebutkan dari kama ini tumpahlah air mani Siwa, yg jatuh dibadan Durga berubah wujud menjadi bhutakala-bhutakali (raksasa), makhluk halus (jin-jin) dan setan. Yg tumpah ditanah menjadi pohon kepuh, pohon beringin, pohon pule. Ketiga pohon tsb merupakan pohon sakral di Bali seperti pule batang kayunya dipakai utk topeng barong/rangda. Sedangkan pohon beringin, daunnya dipakai sarana saat upacara ngaben, upacara mamukur (kelanjutan ngaben), dan ritual-ritual lainnya. Bahkan daun beringin wajib ada dalam komponen pembuatan penjor (tiang bambu yg dihias janur saat hari Galungan).

Perajin Topeng Harapkan Petani Atasi Kelangkaan Kayu

Kerajinan
Perajin Topeng Harapkan Petani Atasi Kelangkaan Kayu

 

Gunung kidul, Kompas – Para perajin topeng di Dusun Bobung, Desa Putat, Patuk, Gunung Kidul, mengharapkan adanya kerja sama para petani untuk mengatasi kelangkaan kayu pule (Alstonia scholaris R Br). Para perajin topeng kayu batik setempat terpaksa mencari ke daerah lain dengan harga mahal.

Mereka terpaksa menunggu pasokan dari Pacitan dan Ponorogo (Jawa Timur) serta Purworejo (Jawa Tengah). Sementara, harga mencapai Rp 1,75 juta per truk isi sekitar lima meter kubik. Kondisi tersebut membuat para perajin terpaksa juga mematok harga cukup mahal dengan ukuran yang paling kecil seperti topeng suvenir gantungan kunci Rp 5.000 per buah hingga Rp 55.000 untuk topeng ukuran besar atau L.

“Permintaan terhadap topeng kayu batik masih besar, tetapi para perajin tidak bisa memenuhi karena bahan baku yang tersedia sangat terbatas dan mahal. Sementara, permodalan juga masih terbatas,” kata Marsilam dari Bengkel Perajian Topeng Karya Manunggal di Dusun Bobung, Patuk, Rabu (19/9).

Marsilan menyatakan, untuk mengatasi kelangkaan kayu pule ini tidak ada jalan lain kecuali melakukan penanaman besar-besaran. Namun, kalau peremajaan tanaman tersebut diserahkan kepada para perajin, itu tidak mungkin. Sebab, beberapa tahun lalu hal tersebut pernah dilakukan dan tidak berhasil karena para perajin terkonsentrasi mengurus usaha mereka. Kerja sama

Menurut Marsilan, upaya yang terbaik dilakukan adalah bekerja sama dengan para petani yang bersedia mengembangkan tanaman tersebut. Dengan cara ini, selain bisa mendapatkan kayu pule dengan mudah dan murah, para petani sendiri mendapat penghasilan tambahan.

Menyinggung soal permintaan pasar, Marsilan mengungkapkan, kerajinan topeng, patung, menong, wayang, wayang golek, dan aneka kerajinan kayu batik lain setiap pemesanan mencapai 5.000 buah, khususnya kerajinan topeng berbagai ukuran. Tetapi, dengan mempekerjakan 76 warga setempat, baru mampu menghasilkan 200 topeng sehari. Tingginya permintaan tersebut karena hasil kerajinan di dusun ini hampir 80 persen untuk diekspor melalui pedagang perantara ke Singapura, Amerika Serikat, Australia, dan Perancis.

 

Hal senada diungkapkan Surono, perajin topeng. Ia yang baru enam bulan membuka usaha kerajinan topeng di dusun ini juga merasakan tingginya permintaan pasar.

Selama tiga kali mengikuti pameran kerajinan, dari 150 topeng yang digelar, hampir 80 persen terjual. “Saya jual menjual di Malioboro, Yogyakarta, juga laris,” katanya. (FUL) 

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0709/21/jogja/1042663.htm

« Entri lama